logo

Rawon dan Laksa, Sup Khas Indonesia yang Mendunia

Senin, 13 Mei 2024

INDONESIA – Membahas soal makanan khas Indonesia memang tidak ada kenyangnya, ya? Hampir setiap daerah di Indonesia punya makanan lezat dan menggoda untuk dicicipi. Ditambah lagi, pengolahan dan bumbu-bumbu yang digunakan turut mencirikan dari mana makanan khas tersebut berasal. Kelezatan dan keautentikan inilah yang menjadikan makanan khas Indonesia dilirik banyak wisatawan mancanegara.

Bahkan belum lama ini, beberapa makanan khas Indonesia kembali mendunia. Setelah Nasi Goreng dan Rendang yang masuk ke dalam daftar “Makanan Terenak di Dunia” versi CNN. Kini giliran Rawon yang menduduki peringkat pertama sebagai “10 Best Rated Soups in the World 2023”, dan Laksa masuk dalam jajaran “50 Best Soups in the World 2023” versi Taste Atlas.

Makanan berkuah khas Indonesia ini berhasil mengalahkan sup-sup enak lainnya di dunia, seperti Ramen dari Jepang, hingga Tom Kha Gai dari Thailand. Lantas, seperti apa kelezatan dari sup-sup khas Indonesia yang mendunia ini?

Rawon khas Jawa Timur

Konon, rawon sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit, hal ini dibuktikan dengan disebutnya makanan ini dalam Prasasti Taji (901 M) di Ponorogo, Jawa Timur. Dalam prasasti tersebut rawon ditulis dengan nama “Rarawwan”.  Prasasti inilah yang membuat banyak orang meyakini bahwa rawon berasal dari Ponorogo, sebelum akhirnya menyebar ke seluruh pelosok Jawa Timur.

Berdasarkan catatan dalam Serat Wulangan Olah-olah Warna-warni (1926), rawon menjadi hidangan bagi para raja-raja. Dahulunya, rawon menggunakan daging kerbau, namun kini diganti daging sapi yang lebih umum dan mudah ditemukan. Dimasak dengan metode lambat dan campuran bumbu-bumbu rempah khas, membuat daging rawon sangat empuk dan kaldu meresap sempurna.

Salah satu kunci dari kelezatan dan keunikan rawon adalah penggunaan keluak di dalam sup terenak di dunia ini. Keluak memberikan warna hitam pekat yang menjadi ciri khas rawon. Bisa dibilang, kalau tidak menggunakan keluak, rawon hanyalah sup biasa. Karena warnanya yang hitam pekat ini banyak wisatawan mancanegara menyebut rawon black soup. O, iya, keluak yang tidak diolah dengan baik beracun, lo! Jadi, tidak boleh dimakan mentah, ya!

Dalam satu piring rawon terdiri dari: potongan daging sapi, tauge, taburan bawang goreng, kerupuk udang, telur asin, dan kuah sup yang hitam pekat. Kuah sup yang kaya rempah dan daging yang lembut, ditambah gurih telur asin dan kesegaran tauge membuat perpaduan nikmat dalam satu suapan rawon khas Jawa Timur.

Laksa Tangerang

Satu lagi sup yang banyak ditemui di beberapa daerah di Indonesia yang masuk dalam daftar Sup Terenak di Dunia versi Taste Atlas adalah Laksa. Di Indonesia, ada beberapa daerah yang memiliki hidangan laksa yang khas, yakni Laksa Betawi, Laksa Bogor, dan yang paling terkenal adalah Laksa Tangerang.

Mengutip dari indonesia.go.id, laksa Tangerang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Makanan khas Tangerang ini merupakan hasil dari akulturasi budaya Tionghoa di Tangerang. Nama “Laksa” sendiri berasal dari bahasa sanskerta yang berarti: banyak, yang merujuk pada pembuatan laksa dengan campuran banyak bumbu dan rempah.

Uniknya, di Tangerang ada dua jenis laksa yang bisa Sobat Parekraf cicipi, yakni Laksa Nyonya dan Laksa Nyai. Kedua jenis laksa ini mencirikan siapa yang membuatnya. Laksa Nyonya dibuat oleh orang peranakan Tionghoa Tangerang, sedangkan Laksa Nyai diproduksi oleh penduduk lokal.

Secara umum, laksa Tangerang terbuat dari mi tepung beras putih yang disiram kuah kuning kental dari santan dan rempah-rempah pilihan. Sepiring laksa Tangerang makin lengkap dengan tambahan lauk berupa: ayam opor, telur rebus, taburan kacang hijau, dan taburan kelapa sangrai yang membuat cita rasa laksa makin sedap di lidah.

Sebenarnya, selain rawon dan laksa, ada beberapa sup-sup khas Indonesia yang pernah masuk dalam daftar “Sup Terenak di Dunia”, seperti soto, gulai cincang, dan mi kocok. Jadi, sup apa yang jadi favorit Sobat Parekraf, nih? Foto: Kelezatan dari laksa Tangerang yang telah mendunia (Shutterstock/Hanifah Kurniati).*(sumber:kemenparekraf.go.id)

error: