logo

Persiapan Pengembangan Halal Tourism dan Muslim-Friendly di Indonesia

Selasa, 13 Februari 2024

INDONESIA – Halal tourism atau wisata halal adalah sebuah model  atau paket layanan tambahan atau extended services amenitas yang ditunjukkan dan diberikan untuk memenuhi pengalaman dan keinginan wisatawan muslim. Menurut Alexander Reyaan, Direktur Wisata Minat Khusus Kemenparekraf, layanan tambahan meliputi need to have, seperti makanan halal dan fasilitas untuk salat, dan good to have, seperti toilet yang ramah bagi muslim.

“Wisata halal atau halal tourism lebih memfokuskan pada layanan tambahan  yang disediakan oleh pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif agar bisa sesuai dengan kategori halal. Misalnya, sebuah hotel menyediakan apapun yang dibutuhkan wisatawan muslim, maka hotel tersebut sudah menjalankan wisata halal. Kalau wisata ramah muslim artinya ketika destinasi wisata bisa menyediakan rute atau tempat-tempat yang membuat wisatawan muslim merasa aman dan nyaman, seperti saat beribadah atau makan, selama berlibur,” ujar Alexander.

Saat ini, pasar halal tourism dan muslim-friendly di Indonesia telah memasuki fase pasar global. Oleh karena itu, pengembangan layanan halal tourism dan muslim-friendly tourism wajib dilakukan untuk mendorong Indonesia menjadi pemimpin dalam pengembangan wisata ramah muslim dunia.

“Dalam data yang dirilis oleh Global Islamic Economy 2019, Indonesia dan Malaysia berada di peringkat satu sebagai negara dengan potensi wisata halal terbaik dunia. Indonesia disebut memiliki 2 keunggulan di bidang wisata halal, yaitu komunikasi seperti publikasi dan promosi; dan kedua untuk services atau layanan. Kedua poin ini bisa menjadi modal kita untuk bisa terus mengoptimalkan potensi wisata halal di Indonesia,” jelas Alexander.

Pengembangan Potensi Halal Tourism
Dalam mengembangkan halal tourism, terdapat tiga potensi sekaligus kekuatan bagi Indonesia yang dapat dikembangkan. Menurut Alexander, pertama, potensi itu berasal dari kekayaan dan keragaman sumber daya pariwisata nasional. Kedua, atensi dan sikap positif masyarakat terhadap pengembangan halal tourism. Ketiga, posisi Indonesia sebagai negara tujuan investasi halal tourism, mengingat Indonesia adalah negara mayoritas muslim.

“Saat ini, kebanyakan wisatawan yang datang untuk menikmati wisata halal di Indonesia masih dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan warga lokal sendiri. Kemenparekraf berupaya untuk melakukan kerja sama dengan Arab Saudi agar bisa membuka pasar wisata halal di sana mengingat masyarakat Indonesia banyak sekali yang ke sana untuk ibadah haji atau umroh,” pungkas Alexander .

Namun, lebih lanjut Alexander menjelaskan rencana tersebut masih terkendala karena memang adanya kesulitan untuk mengubah profiling wisatawan asal Timur Tengah. Wisatawan Timur Tengah lebih suka berwisata ke negara yang berbeda dari lingkungan mereka. Ditambah masih ada masalah di sisi yang masih perlu ditingkatkan seperti safety dan inbound economy untuk bisa menjalankan pariwisata minat khusus seperti wisata halal.

“Kita harus mencoba untuk mengubah strategi, dari quantity tourism menjadi quality tourism. Jadi, pariwisata tidak hanya berpaku pada jumlah wisatawan, tetapi kepada length of stay dan spending yang lebih besar. Tentu saja banyak yang harus dikerjakan dan diperbaiki agar bisa mengubah daya tarik produk wisata yang berorientasi pada experience atau pengalaman. Pengelolaan destinasi harus lebih kreatif dan serius agar wisata halal dan wisata ramah muslim bisa lebih berkualitas,” kata Alexander.Foto Cover: Ilustrasi Wisatawan Sedang Swafoto. (Shutterstock/metamorworks).*(data/photo:kemenparekraf.go.id)

error: