logo

Ngabuburit Sambil Berburu Takjil Khas Ramadan

Selasa, 13 Februari 2024

INDONESIA – Menjelang waktu berbuka puasa, umumnya masyarakat Indonesia akan keluar rumah untuk ngabuburit. Meski sudah jadi tradisi, namun masih sedikit orang yang tahu asal-usul istilah ngabuburit tersebut. Dikutip dari Kompas.com, ngabuburit bisa ditemukan dalam Kamus Bahasa Sunda. Kata ini berasal dari kalimat “ngalantung ngadagoan burit” yang berarti bersantai sambil menunggu waktu sore.

Umumnya, salah satu kegiatan yang dilakukan selama ngabuburit adalah menyusuri “pasar kaget” yang biasa buka hanya saat bulan Ramadan untuk mencari takjil. Di pasar dadakan ini biasanya akan ada beragam camilan khas Indonesia yang menjadi primadona menu untuk berbuka puasa.

Takjil dengan cita rasa gurih dan manis kerap menjadi incaran masyarakat Indonesia. Berikut ini beberapa takjil yang kerap diburu banyak orang saat ngabuburit:

Cenil

Cenil merupakan salah satu jajanan pasar yang banyak dicari ketika ngabuburit. Takjil khas Ramadan berbentuk bulat-bulat kecil ini terbuat dari tepung ketela pohon. Umumnya cenil disajikan bersama saus gula merah atau taburan gula, dan taburan kelapa parut yang gurih. Menu takjil ini sering dijumpai hampir di seluruh daerah di Jawa.

Mendoan

Bagi masyarakat Jawa Tengah, khususnya Purwokerto, mendoan jadi menu yang tidak boleh absen saat berbuka puasa. Makanan ini berbeda dengan tempe goreng pada umumnya. Karena mendoan punya tekstur yang lebih lembut, gurih, dan agak “layu” dibandingkan tempe goreng biasa. Takjil ini paling cocok dinikmati saat masih panas bersama cabe rawit atau kecap pedas.

Es Durian

Ketika berbuka puasa, umumnya masyarakat Indonesia menyukai menu berbahan es untuk melepas dahaga. Salah satu pilihan menu yang umum dibeli ketika ngabuburit adalah es durian. Terbuat dari buah asli, cita rasa dan aroma khas dari durian akan langsung terasa pada suapan pertama. Umumnya es durian disajikan bersama es serut dan kuah santan yang gurih.

Kolak Biji Salak

Takjil khas Ramadan satu ini cukup sering dan mudah Sobat Parekraf temui saat ngabuburit. Biji salak yang digunakan dalam sajian kolak ini bukanlah biji salak asli, ya. Disebut “biji salak” karena adonan ubi dan tepung tapioka dibentuk bulat-bulat mirip biji salak. Tekstur adonan yang kenyal dan manis membuatnya dijuluki sebagai boba khas Indonesia.

Es Pisang Ijo

Makanan khas Ramadan ini memadukan rasa manis dan lembut dalam tiap suapan. Sesuai namanya, es ini berasal dari buah pisang yang dibalut tepung berwarna hijau. Dalam penyajiannya, es pisang ijo dilengkapi dengan kuah yang terbuat dari campuran sirup dan santan kelapa. Rasa manis dan gurih yang berpadu nikmat cocok sekali jadi menu berbuka puasa.

Getuk Goreng

Takjil yang juga banyak diburu ketika ngabuburit adalah getuk goreng. Kuliner asli Purwokerto ini punya bahan dasar singkong. Berbeda dari getuk pada umumnya, takjil satu ini dimasak dengan cara digoreng. Walau begitu, getuk goreng tetap punya rasa manis dan empuk ketika digigit.

Barongko

Makanan khas Ramadan selanjutnya datang dari suku Bugis, Makassar. Rasanya yang manis dan gurih sangat pas untuk disantap ketika berbuka puasa. Barongko terbuat dari pisang, telur, santan, gula pasir, dan garam. Dalam penyajiannya, takjil satu ini dibungkus dengan daun pisang dan disantap saat dingin. Ilustrasi Kolak Biji Salak Kuliner yang Sering di Jumpai saat Sobat Ekraf Ngabuburit.(Foto: Shutterstock/Diade Riva Nugrahani).*(data/photo:kemenparekraf.go.id)

 

error: