logo

Menparekraf Apresiasi “Lomba Cipta Lagu Daerah Nusantara” Gali Potensi Kreatif Musisi Daerah

Selasa, 30 Januari 2024

JAKARTA – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengapresiasi ajang “Lomba Cipta Lagu Daerah Nusantara (LCLDN) 2023” yang puncak acaranya sukses digelar pada Kamis, 21 Desember 2023, di Studio RRI Auditorium Abdurahman Saleh, Jakarta.

Menparekraf Sandiaga dalam “The Weekly Brief with Sandi Uno” di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (29/1/2024) mengatakan, Lomba Cipta Lagu Daerah Nusantara merupakan event tahunan yang diinisiasi oleh Alumni SMAN 6 Yogyakarta.

Kehadirannya tentu menjadi ruang bagi para musisi daerah untuk menggali potensi kreatif sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa daerah nusantara melalui musik, serta menjaga kelestarian bahasa daerah nusantara agar tidak punah.

“Lomba ini keren banget! Kita terus menjaga semangat kita dan kita pelihara momentum ini agar musik daerah bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Sandiaga.

Sebanyak 12 peserta masuk ke babak grand final dan terpilih Freitsna Sopaheluwakan asal Ambon, Maluku, dengan lagu Baku Kele sebagai Juara 1. Kemudian, Juara ke-2 ditempati oleh Eutimirius Lodha asal Ngada NTT, dengan lagu Papa Modhe. Dan posisi ketiga Stephen Irianto Wally, asal Papua dengan lagu Mahi Mahi Nebei Be M’Bai.

Terpilih sebagai juara harapan satu adalah lagu Arta Ta yang berbahasa Batak ciptaan Daniel Yohansen Martin, juara harapan dua lagu Sitou Timou Timou Tou berbahasa Minahasa ciptaan Ferdinand Soputan, juara harapan tiga lagu Pakeling berbahasa Bali ciptaan I Gede Sudipta Chandanatha.

Ada juga lagu ter favourite pilihan penonton yaitu Sakentang-Sakentung karya Rizky Abdullah dari Tegal Jawa Tengah. Dewan Juri terdiri dari Trie Utami, Ivan Nestorman, Helvy Tiana Rossa,Viky Sianipar,Sundari Soekotjo dan Ivan Edbert.

Ketua Panitia LCLDN, Totok Sediyantoro menceritakan latar belakang tercetusnya Lomba Cipta Lagu Daerah Nusantara. Bermula dengan menjamurnya Korean Pop (K-Pop) di kalangan anak muda. Dimana menurut Totok, K-Pop hadir dengan bahasa Korea yang belum tentu secara makna dipahami namun sangat digemari. Salah satu inisiatornya adalah Bapak Sapta Nirwandar yang pernah menjabat Wamen Parekraf RI.

“Untuk itu kami pun berfikir, Indonesia yang punya banyak bahasa daerah ini, tentunya bisa kita optimalkan untuk lebih dikembangkan sehingga popularitasnya tidak kalah dengan K-Pop,” ujar Totok.

Music Director LCLDN, Dwiki Dharmawan, mengatakan musik Pop Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi, mampu berjaya di negeri sendiri. Alangkah baiknya jika musik daerah yang dinyanyikan dengan berbagai bahasa daerah juga memiliki tempat di industri musik tanah air. Hal ini juga sebagai upaya untuk menghormati dan memelihara bahasa daerah nusantara melalui musik.

“Karena bahasa daerah memiliki dialek, memiliki idiom yang secara aspek musikalnya sendiri menjadi menarik secara keseluruhan bila dikemas dengan keren dan nuansa kekinian juga. Dengan begitu, harapannya musik daerah dapat menjangkau baik nasional maupun internasional,” kata Dwiki.

Saat ini pihak Lomba Cipta Lagu Daerah Nusantara sedang menggarap music video para finalis dan berupaya agar karya-karya musik daerah tersebut bisa masuk ke platform musik digital, sehingga bisa diperdengarkan ke khalayak luas.

Turut hadir mendampingi Menparekraf, Direktur Musik, Film dan Animasi, Mohammad Amin yang hadir secara daring; dan Direktur Aplikasi, Permainan, Televisi, dan Radio, Iman Santosa hadir secara luring.*(data/photo:kemenparekraf.go.id)

error: