logo

Ketika Relief Candi Borobudur Menginspirasi Para Musisi

Selasa, 13 Februari 2024

INDONESIA – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) sukses menggelar kegiatan konferensi Internasional di salah satu 5 Destinasi Super Prioritas, yaitu Candi Borobudur. Acara ini mengusung tema “Sound of Borobudur-Music Over Nations: Menggali Jejak Persaudaraan Lintas Bangsa Melalui Musik”.

Acara ini telah dihelat sejak bulan Juni lalu dan akan berlangsung hingga November 2021. Konferensi ini bertujuan untuk memperkenalkan Candi Borobudur lebih dalam pada dunia melalui representasi alat musik pada reliefnya.

Tentu hal ini tidak dapat dipisahkan dari kebesaran Candi Borobudur sebagai inspirasi budaya dunia khususnya bangsa Indonesia. Candi Borobudur merupakan monumen Buddha terbesar di dunia yang telah ada sejak tahun 800 Masehi. Karena nama besarnya, Candi Borobudur masuk dalam 5 Destinasi Super Prioritas dalam program “Bali Baru”.

Acara Musik Bertajuk Wisata Budaya

Dengan adanya kegiatan Sound of Borobudur, Kemenparekraf/Baparekraf berharap wisata budaya di Indonesia dapat semakin berkembang dan berkelanjutan. Pemilihan musik sebagai napas utama dalam acara ini karena musik dianggap sebagai bahasa universal, yang dapat digunakan untuk menggali nilai-nilai universal pada relief Candi Borobudur.

Sound of Borobudur menampilkan jajaran musisi beken tanah air, seperti Purwacaraka dari Yayasan Padma Sada Svargantara, Dewa Budjana, Trie Utami, dan yang menarik musisi yang mewakili 5 Destinasi Super Prioritas: Vicky Sianipar, Ivan Restore, Samuel Glenn, Moris, dan Nur Kholis.

Tak hanya musisi tanah air yang ikut berpartisipasi dalam gelaran Sound of Borobudur. Acara musik ini turut dimeriahkan musisi-musisi dari 10 negara lainnya, yaitu Filipina, Myanmar, Laos, Vietnam, Taiwan, Jepang, Tiongkok, Amerika, Spanyol, dan Italia.

Hal menarik dari Sound of Borobudur adalah para musisi memainkan alat-alat musik yang terdapat ada pada relief-relief Candi Borobudur. Selama ini penemuan relief alat musik pada Candi Borobudur hanya dijadikan ilmu pengetahuan pasif saja. Dengan adanya Sound of Borobudur diharapkan akan ada eksplorasi lebih lanjut mengenai inspirasi musik tanah air.

Di Candi Borobudur sendiri terdapat sekitar 226 relief alat musik, mulai dari alat musik jenis tiup, petik, pukul, membran, hingga ansambel. Namun yang akan dimainkan dalam gelaran Sound of Borobudur hanyalah suling, luthe, ghanta, simbal, cangka, gendang, dan saron.

Pemilihan alat musik dari relief Candi Borobudur ini memiliki makna tersendiri. Secara filosofi, alat musik yang dimainkan bersama menimbulkan harmonisasi yang indah melambangkan toleransi antar suku, ras, dan agama di Indonesia yang akan memunculkan keindahan.

Mengembangkan Ekonomi Kreatif Lokal

Sound of Borobudur tidak hanya berpaku pada gelaran musik, namun ada juga pameran kreatif lokal untuk mempromosikan kekhasan dan keunggulan produk. Kehadiran pelaku ekonomi kreatif lokal turut menyemarakkan acara dan mendorong bergeliatnya kembali sektor parekraf di sekitar Candi Borobudur.

Produk ekonomi kreatif artisan lokal yang ditampilkan dalam Sound of Borobudur antara lain: Coklat Borobudur (kuliner), Griya Handicraft (kriya), Wang Sinawang (kuliner), Wedang (kuliner), Kriya Kayu Rik Rok (kriya), Seruas Production (kriya), Mahadika Rajut (kriya), Gubuk Kopi Borobudur (kuliner), Singkong Keju Mlahar (kuliner), Batik Borobudur (fesyen), dan Wader Presto Yu Sari (kuliner).

Sinergi antara pelaku ekonomi kreatif dengan para musisi di Sound of Borobudur ini harapannya dapat menjadi media untuk mensejahterakan warga di sekitar Candi Borobudur. Tidak hanya itu, dari sisi MICE kegiatan Sound of Borobudur diharapkan dapat mengembangkan dan mengenalkan 5 Destinasi Super Prioritas di Indonesia.Foto Cover: Suasana sunset di Candi Borobudur.(Shutterstock/Dmitry Zimin).*(data/photo:kemenparekraf.go.id)

error: